Tuntutan Kreatifitas Guru untuk Menyampaikan Materi Ajar

Pengorganisasian materi pembelajaran ialah suatu pengembangan dalam penyampaian materi kepada peserta didik dan tentunya memiliki fungsi sebagai peningkatan mutu belajar itu sendiri. Pada kurilukum 2013 yang insya allah akan diterapkan pada tahun ajaran sekarang, banyak memunculkan suatu perubahan dalam segi materi maupun sistem yang dikeluarkan. Dari banyaknya perubahan yang dialami, salah satu yang paling mencolok ialah datang dari mata pelajaran sejarah. Dimana mata pelajaran ini dibagi kedalam dua lingkup, yang pertama sebagai mata pelajaran wajib yang tentunya wajib diikuti oleh setiap peserta didik dan yang kedua sebagai mata pelajaran pilihan. Tentunya banyak aspek yang ditimbulkan dari segi perubahan tersebut, baik bersifat positif maupun bersifat negatif.

Pembelajaran sejarah oleh guru kurang berhasil dalam menggairahkan siswa untuk penghayatan nilai-nilai secara mendalam yang ditujukan dengan pengungkapan ekspresi seacara vokal (Isjoni dan Ismail, 2008 : 148). Ketika peserta didik dihadapkan kepada mata pelajaran sejarah, tentunya reaksi yang beragam akan muncul dalam pikiran mereka, dan yang paling dominan dari reaksi yang mereka timbulkan adalah mata pelajaran sejarah merupakan mata pelajaran hafalan, yang hanya berisi tanggal dan tahun, mata pelajaran kuno dan sering dianggap sebelaha mata, hal tersebut diperparah dengan penempatan mata pelajaran sejarah yang sering kali pihak sekolah menempatkannya dimata pelajaran paling akhir, lalu yang terakhir yang sering sekali muncul dikepala peserta didik adalah mata pelajaran yang sangat membosankan? Pembelajaran sebenarnya adalah sebuah proses aktif yang bisa dipelajari dan diterapkan untuk berbagai situasi (Barwood, Tom, 2005: 12) namun disebabkan satu dan lain hal stigma tersebut terus saja melekat dalam mata pelajaran sejarah. Tentunya kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya peserta didik ataupun pihak sekolah dalam melihat permasalahan ini. Faktor tenaga pendidik pun patut dipertanyakan andilnya dalam melihat permasalahan diatas.

Ironi, ketika pemerintah sudah mulai menaruh perhatian lebih kepada nasib mata pelajaran sejarah, namun hal tersebut sepertinya tidak disambut dengan peningkatan mutu tenaga pendidik. Hal tersebut tambah diperparah dengan guru mata pelajaran sejarah yang bukan berasal dari jurusan pendidikan sejarah. Hal tersebut jelas perlu digaris bawahi, bagaimana tidak seseorang yang tidak mempunyai kemampuan dibidang tertentu dipaksakan untuk mengajari bidang tersebut, tentunya permasalahan tersebut menjadi sesuatu yang riskan. Masalah penempatan sumber daya manusia yang salah, seperti permasalahan diatas lebih disebabkan paradigma yang berkembang di sekolah khususnya jika mata pelajaran sejarah dapat diajarkan oleh siapa pun karena tergolong mata pelajaran yang mudah dan bersifat hafalan. Seperti sisi mata uang yang berbeda, satu sisi pemerintah mulai giat mencanangkan profesionalisme dalam pembelajaran hal tersebut terbukti dengan diluncurkannya program sertifikasi bagi guru, namun disisi lain masih banyak ditemukan sekolah yang memberikan tanggungjawab mengajarkan sejarah bukan kepada tenaga pendidik yang berkompeten dibidangnya. Ketika hal tersebut terjadi, mungkin pertanyaannya kapan sebuah kata profesionalime akan benar-benar tercapai?

Seperti yang telah sempat disinggung diawal, kita pun tidak dapat menyalahkan peserta didik ataupun pihak sekolah secara utuh, melainkan perlu dari sisi tenaga pengajarnya nya untuk berintropeksi diri. Masalah diatas muncul mungkin juga disebabkan oleh ketidakmampuan guru dalam menciptakan suatu inovasi pembelajaran, ataupun ketidakmampuan untuk mengimplikasikan model pembelajaran yang kreatif. Dengan begitu terbuka kesempatan yang cukup besar bagi peserta didik untuk dapat lebih menyerap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengubah cara pandang peserta didik dalam memilai mata pelajaran sejarah. Salah satunya ialah dari strategi pembelajaran yang perlu diubah agar berusaha untuk menarik peserta didik untuk mulai mencintai sejarah. Seperti apa yang dikatakan oleh Kozna, secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dipilih, yaitu dapat memberikan fasilitas / bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Pernyataan Kozna tersebut diperjelas oleh pernyataan yang berasal dari Gerlach dan Ely yang menjelaskan bahwa trategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam pembelajaran tertentu ( Uno, B H, 2007 : 108).

Banyak hal yang dapat diimplikasikan oleh para tenaga pendidik guna meningkatkan daya tarik siswa dalam memaknai mata pelajaran sejarah. Salah satunya dengan dapat menggunakan metode pembelajaran berbasis Mind Map ataupun metode peningkatan memori yang lainnya seperti catatan berjenjang misalnya. Salah satu rasionalisasi mengapa saya lebih menyarankan untuk menggunakan cara-cara seperti tersebut ialah tiga penekanan yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran ialah mencatat, menyimpan, dan mengingat (Vass, A dan Hook P, 2010 : 25). Mencatat, ialah suatu proses bagaimana cara untuk memasukan sebuah informasi; Menyimpan, ialah suatu proses bagaimana suatu informasi tersebut dapat melekat, demikian pulan dengan proses Mengingat yaitu proses bagaimana memastikan peserta didik mengingat informasi tersebut ketika dibutuhkan. Ketiga proses tersebut merupakan proses inti dalam menguatan memori kolektif yang terdapat pada peserta didik, dan rentetan urutannya saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Setidaknya metode yang disarankan untuk menyelesaikan permasalahan diatas dapat membantu untuk mengefektifkan mata pelajaran sejarah yang khusus dalam kurikulum 2013 mengalami substansi materi yang lebih berat dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Dan dalam bidang pendidikan, yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kretaivitas peserta didik ialah guru (Balnadi, 1985 : 107).

Metode Mind Map bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dalam pembelajaran berbasis metode ini tentunya tak lain memiliki tujuan untuk mengajak siswa secara aktif untuk terlibat dalam proses pembelajaran (Lewis dan Hollingsworth,  2008 : 8). Rasa ketidakpedulian sering kali muncul disebabkan oleh perasaan tidak dilibatkan seseorang dalam situasi tertentu. Begitu pun jika kita melihat dalam konteks permasalahan diatas. Siapa tahu dengan guru melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan motivasi peserta didik untu dapat mencintai sejarah. Siswa perlu merasa mereka adalah bagian dari proses pembelajaran.

Dalam metode penggunaan Mind Map, guru dapat membungkus materi ajar dengan sentuhan seni. Dimana seni adalah cara yang ideal untuk mengaktifkan beragam indera, mendorong rasa kebersamaan siswa, menyediakan sarana ganda untuk menemukan dan mengekpresikan makna, membangun rasa percaya diri dan antusiasme belajar, dan menguatkan kemampuan dasar kecerdasan, kognitf emosional, perhatian, dan motorik (Lewis dan Hollingsworth,  2008 : 157). Fungsi Mind Map sendiri ialah membantu agar tetap fokus kepada ide utama dan semua ide tambahan yang lainnya (Buzan, T, 2007 : 6). Dalam metode tersebut harus terjadi komunikasi dua arah baik antara guru dengan peserta didik maupun sebaliknya.

Tenaga pendidik dapat memulainya dengan bagian tengah papan tulis, dengan meletakkan foto atau gambar yang menjadi tema pembahasan, lalu membuat cabang-cabang penghubung, serta sertakan warna pada setiap bagiannya. Terapkan pula cara demikian kepada peserta didik dengan membebaskannya membuat kreasi sendiri dalam buku catatannya. Dengan begitu, peserta didik pun merasa ikut turut aktif dan akan memiliki perasaan dilibatkan dalam proses pembelajaran. Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak, Mind Map adalah mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita ( Buzan, T, 2012 : 6).

Kembali lagi, sebaik-baiknya metode pembelajaran yang telah diciptakan sebelumnya, namun ketika tenaga pendidik masih berorientasi lain ataupun masih belum mampu mengaplikasikan metode pengajaran seperti yang dicontohkan hasilnya pun belum semaksimal dengan apa yang diharapkan. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah tantangan tersendiri guna menghadapi kurikulum 2013 yang mau tidak mau, suka tidak suka akan dihadapi oleh tenaga pendidik. Konsep ini sedikit banyaknya dapat membantu dalam pengorganisasian materi ajar pendidikan sejarah dalam kurikulum 2013. Dalam sejarah nasional, agar dapat terangkum dan tentunya tersampaikan materi secara utuh kepada peserta didik, dan bagi sejarah pilihan agar tenaga pendidik dapat berinovasi dalam penggunaan metode pengajaran agar menumbuhkan rasa ketertarikan kepada mata pelajaran sejarah.

 

 

 

Ketika Penghargaan Terlambat

Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan kisal sentral dalam sejarah Indonesia, melainkan unsur yang kuat dalam persepsi bangsa Indonesia tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas baru, untuk persatuan untuk mengahadapi kekuatan asing (Ricklefs,2010 : 446). Begitu pun dengan apa yang dilakukan oleh Bung Tomo dalam usahanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

            Tak banyak orang yang mengenali lebih jauh tentang sosok yang satu ini. Mungkin satu-satunya yang teringat mengenai sosok beliau adalah gambar beliau yang selalu ada pada buku sejarah semasa sekolah, sorot matanya yang tajam, dan jari telunjuknya yang selalu mengacung keatas ketika dia berpidato, menunjukan betapa semangat dan gigihnya beliau untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesiadari ancaman sekutu. Jika kita melihat dari fungsi sejarah nasional yang salah satunya yaitu sebagai kesadaran nasional yang berakar pada kesadaran sejarah, yang dapat menjadi sumber inspirasi kebanggaan nasional dan memperkuat kebangsaan Indonesia (Kartodirdjo, 1995: 5). Salah satu tujuan untuk menulis perihal sosok Bung Tomo ini salah satunya untuk membangun rasa kebanggaan nasional tersebut.

            Sebelum mengenal perannya lebih jauh dalam perjuangan Revolusi, lebih baik terlebih dahulu mengenal biografi nya lebih dalam. Sutomo yang akrab dipanggil Bung tomo, lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920 (Sulistina,2008 : 220). Bung Tomo di lahirkan di kampung Blauran – Surabaya. Beliau lahir  dari seorang ayah bernama Kartawan Tjiptowidjojo. Ayahnya merupakan termasuk golongan kelas menengah. Pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah, perusahaan swasta, dan perusahaan ekspor – import Belanda. Sedangkan Ibunya keturunan Jawa Tengah, Sunda dan Madura.

Pada masa remaja Bung tomo aktif sebagai anggota gerakan kepanduan bangsa Indonesia (KBI), lulus Ujian pandu kelas 1 (yang pertama di Jawa timur dan kedua untuk seluruh Indonesia yang waktu itu hanya ada tiga pand kelas 1 : menjadi Sekretaris Parindra Rating / Anak cabang di Tembok Duku, Surabaya (sekitar tahun 1937): serta ketua kelompok sandiwara pemuda Indonesia raya di Surabaya, mementaskan cerita-cerita perjuangan pada tahun 1939 sampai balatentara Jepang datang (Sulistina,2008 : 221).

Di Surabaya telah terbentuk Angkatan Muda Indonesia (AMI) pimpinan Ruslan Abdulgani. AMI adalah kelanjutan dari angkatan muda yang telah terbentuk pada masa akhir pendudukan Jepang yang juga berjuang untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka. AMI mengkordinir Angkatan Muda di tiap Kantor Tonarigumi (RT) dan sekolah-sekolah menengah. Sutomo (Bung Tomo) adalah ketua bagian penerangan AMI. Para pemuda yang tergabung dalam AMI, ataupun yang bergerak dibawah tanah, telah memiliki gambaran untuk rencana kedepannya. Dalam rapat pemuda di Gedung Nasional, Bubutan AMI dilebur menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI) (Moehkardi, 1983 : 15).

Setelah dewasa menjadi wartawan freelncer di harian soerra oemoem di Surabaya (1937); wartawan pojok di harian berbahasa Jawa ekspres di Surabaya (1939); redaktur minggguan Pembela Rayat di Surabaya (1938); pembantu / koresponden untuk Surabaya, majalah poestaka timoer Yogyakarta, sebelum perang dibawah asuhan almarhum Anjar Asmara; wakil pimpinan redaksi kantor berita pendudukan Jepang DOMEI bagian bahasa Indonesia, seluruh Jawa timur di Surabaya (1942-1945) dan untuk menghindari sensor balatentara Jepang, bersama wartawan senior Romo Bintarti memberintakan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan berbahasa Jawa; serta menjadi pemimpin redaksi kantor berita Indonesia Antara di Surabaya (Sulistina,2008 : 222). Manis pahitnya kehidupan telah dirasakan oleh Bung Tomo pada usia yang relatif masih muda.

Masa Revolusi Fisik (1945-1949)

Banyak yang dilakukan oleh Bung Tomo semasa revolusi, tak lain tujuannya ialah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman sekutu. Menjadi ketua umum / pucuk pimpinan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabangnya di seluruh wilayah Indonesia. BPRI medidik, melatih, dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata keseluruh tanah air. Setian malam mengucapkan pidato dari radio BPRI nuntuk mengobarkan semangat perjuangan yang selalu di relay oleh RRI di seluruh wilayah Indonesia (1945-1949). Sebagai pimpian BPRI sejak tanggal 12 Oktober 1945 sampai Juni 1947 hingga BPRI dilebur menjadi Tentara Nasiaonal Indonesia (Sulistina,2008 : 222).

Selain itu, dia juga menjadi anggota Dewan penasihat paglima besar Soedirman dan ketua koordinasi produksi sejata seluruh Jawa dan Madura. Pada tanggal 5 Oktober 1947 dilantik oleh presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasonal Indonesia besama Soedirman, Letnan Oerip Soemoharjo, komoodor Surjadarma, Lakasamana Nazir, dan sebagainya dengan pangkat Jenderal Mayor TNI AD yang bertugas sebagai koordiantor AD, AL, dan AU di bidang intelejen dan perlengkapan perang.

Selanjutnya anggota staf gabungan Angkatan perang RI; ketua Panitia Angkatan Darat (membawahi bidang kereta api, bis antar kota, dan sebagainya dengan tugas megordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI) dan bertanggung jawab langsung kepada panglima besar TNI; pada tangal 9 Oktober 1947 (Empat hari setelah susunan angkatan bersenjata RI terbentuk) membuat siaran / pengumumam panggilan masuk kemilitiran RI yang pertama, disini bung Tomo membuat redaksional dan pengetikannnya oleh Muljoto (Brigjen TNI Purn. Dr. Muljoto) (Sulistina,2008 : 223).

Selain hal itu, Bung Tomo pun memiliki peran dan tugas khusus yangdiberikan kepadanya yaitu Mempersiapkan wilayah Gunung lawu (Lawu Comleks) bersama laksamana Nazir, atas peritah panglima besar TNI Jenderal Soedirman sebagai persipan pusat komando tertinggi dalam situasi perang (Sulistina,2008 : 224). Melakukan perundingan dan penyusunan strategi bersama presiden Soekarno beserta kabinetnya (Oktober 1945 di gedung proklamrmasi). Pada waktu itu presiden Soekaro meminta informasi dan saran tentang bagaimana caranya gara tentara pendudukan Jepang bersedia menyerakan senjatanya kepada bangasi Indonesia, seperti apa yang telah terjadi di Surabaya, yaitu Jepang menyerahkan senjatanya atau direbut langsung oleh rakyat. Presiden Soekarno setuju dengan saran tersebut, kemudian dari saran tersebut dikeluarkan instruksi yang ditandatangani oleh pimpinan KN (Komite Nional Indonesia / parlemen sementara) dan kepala Polisi RI. Soekanto, sebagai wakil menteri dalam negeri Wiranatakusumah. Instruksi untuk daerah Jawa timur kemudian dibawa bung Tomo (Sulistina,2008 : 224). Bung Tomo menjadi saksi sejarah dan menyaksikan begitu banyak pengorbanan dan cerita duka yang diramu dengan kisah heroik rakyat.

Dari pemaparan di atas terlihat betapa banyak nya peran yang dilakukan oleh Bung Tomo dalam perjuangannya mempertahankan Republik ini. Tentunya mungkin tak mudah untuk berada diposisi beliau. Betapa banyaknya korban yang berjatuhan. Begitu banyak manusia yang tergeletak mati. Rasanya kematian lebih banyak dari kelahiran. (Sulistina, 2008 :17). Kata-kata tersebut merupakan perkataan Bung Tomo yang dikatakan kepada istrinya. Menggambarkan situasi yang mencekam, penuh dengan ketidakpastian, dan penuh perjuangan. Dimata sahabat-sahabat seperjuangannya Bung Tomo adalah merupakan aset nasional kata kawan-kawan seperjuanggannya. Pidatonya digunakan untuk membakar semangat rakyat agar tetap dapat berkobar (Sulistina, 2008: 53). Hal tersebut menunjukan sangat berpengaruhnya sosok seorang Bung Tomo sebagai penggerak masyarakat untuk melawan pihak sekutu. Faktanya sudah tak diragukan kembali, pemerintah Belanda telah mengumumkan akan memberikan hadiah bagi mereka yang dapat menyerahkan Bung Tomo dan Bung Karno.

Dari begitu banyaknya peran yang dilakukan oleh Bung Tomo untuk tetap mempertahankan kemerdekaan negara ini. Peran yang paling penting adalah menyebarkan berita proklamasi yang disiarkan dengan morsecast melalui pemancar radio Domei (Soewarno, 1991, 61).  Namun, kebanyakan sering beranggapan peran tersebut dengan sebelah mata, padahal dibutuhkan sebuah keberanian besar untuk menyiarkan berita kemerdekaan tersebut dengan tujuan hanya satu yaitu untuk memberitahukannya kepada rakyat Surabaya khususnya. Dan Bung Tomo berani mengambil resikonya.

Hal lain yang menjadi tonggak besar dalam hidup seorang Bung Tomo adalah pembentukan BPR (Badan Pemberontakan Rakyat). Setelah tentunya memikirkan sebelumnya akhirnya Bung Tomo memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Badan Pemberontakan Rakyat. Dan untuk pertama kalinnya Bung Tomo berpidato atas nama BPR pada pukul 19.30 WIB, 13 Oktober 1945 di depan corong radio Republik Indonesia Surabaya. Setelah itu, pucuk pimpinan pemberontakan Rakyat mendirikan pemancar Radio Pemberontakan sendiri di Jalan Mawar no. 2 dari situ semangat rakyat Surabaya, rakyat Jawa Timur, bahkan rakyat seluruh Indonesia dikobarkan untuk membela nusa dan bangsanya. (Sudharmono, 1978 :105).

Puncak perjuangan Bung Tomo ketika akhirnya ia harus memutuskan untuk menyerang Inggris tepatnya pada pukul 16.00 WIB, 09 November 1945 mencapai kesepakatan bahwa aksi tentara Inggris itu harus dilawan. Setengah jam kemudian Sumarsono dan Bung Tomo memberikan komando kepada pasukan mereka masing-masing dan rakyat Surabaya pada umumnya untuk melawan tentara Inggris. Komando tersebut langsung disiarkan melalui radio pemberontak yang didahului oleh lagu Indonesia Raya. Beberapa detik kemudian pecah perang untuk mempertaruhkan kehormatan Republik Indonesia di Surabaya. (Sudharmono, 1978 :111). Dan puncak pertempuran pun dimulai. Banyak korban jiwa yang harus gugur dalam pertempuran ini, kesedihan yang dirasakan oleh Bung Tomo pun sering dia tuliskan melalui surat-surat yang ditulisnya kepada istrinya. Bagi keluarganya Bung Tomo merupakan sosok yang tak bisa diduga apa yang ingin direncanakan dan dilakukannya.

Menjelang siang hari pertempuran sengit berkecamuk di daerah-daerah pelabuhan, sedangkan didaerah-daerah kota pertempuran bertambah hebat dan semakin seru. Dalam gerakannya pihak Inggris mengerahkan 21 buah tank  Sherman. Waktu pertempuran sedang menghebat dimana pesawat-pesawat mereka tengah berlaga memuntahkan peluru-peluru mautnya, pasukan artileri kita berhasil menembak jatuh 3 pesawat musuh. Bung Tomo, pemimipin Barisan Pemberontak Republik Indonesia melalui corong radio pemberontak di Surabaya dengan kata-kata yang berapi-api membakar hati rakyat untuk melawan sekutu Inggris. (Sudjadi, 1985 :124). Bung Tomo selalu mengobarkan semangat para pejuang dengan kata-kata

“Selama banteng-banteng Indonesia masih berdarah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih selama itu tidak akan suka kita membawa bendera putih untuk menyerah kepada siapapun juga” (Sudharmono, 1978 :120 ).

Kata-kata tersebut yang sampai sekarang dikenang sebagai kata-kata pembakar semangat perjuangan. Hasilnya, pelucutan-pelucutan senjata di Jawa Timur boleh dikatakann 100% berhasil, dan lebih sempurna lagi dari pada di Jawa Tengah. Tanggal 1 September 1945 telah berdiri BKR di Surabaya dengan pimpinan bekas daidanco dokter Mustofo. Pemuda-pemuda nya pun mulai menyusun organisasi, seperti pemberontak-pemberontak dari Bung Tomo dan PRI dari Sumarsono dan lainya. (Nasution, 1976 : 405).

Dan klimaks dari perjuangan sosok Bung Tomo ialah beliau diangkat sebagai Dewan Penasihat Jenderal Soedirman, dengan tujuan untuk menyempurnakan koordinasi antara pucuk pimpinan dengan laskar-laskar,  selain nama Bung Tomo terdapat pula nama-nama lain seperti Malik dari dewan perjuang Jawa tengah, dan Tirwan dari dewan perjuangan Jawa barat (Marsono, 2012 : 141).

Bung Tomo merupakan sosok kharismatik yang sangat dihormati dan disegani oleh orang-orang disekitarnya. Hal tersebut terlihat oleh sikap masyarakat umum dan golongan yang lainnya tidak begitu patuh terhadap pemerintah, tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada tokoh-tokoh pemuda seperti bung Tomo. ( Maeswara, 2910 : 55). Jelas dari pernyataan tersebut bagaimana sosok Bung Tomo menjadi sosok sentral dan berpengaruh bagi orang-orang pada saat itu baik yang mengenalnya secara langsung maupun secara tidak langsung.

Terdapat hal-hal yang menarik yang menarik dari sisi lain dari sosok Bung Tomo yang dapat menjadibahan pembelajaran. Sebagai contoh, dalam pidatonya yang fenomenal, diakhir kalimat pidatonya beliau meneriakan kata Allahuakbar Allahuakbar tentunya hal tersbut menjadi suatu gambaran tersendiri bagaiamana religiusnya sosok BungTomo. Ada banyak interpretasi yang menjelaskan mengapa dalam akhir pidatonya beliau mengucapkan kaliat tersebut, salah satunya datang dari pendapat Muhammad Nasir yang menjelaskan mengapa bung Tomo harus meneriakan Takbir Allahuakbar Allahuakbar dalam menutup pidato radio pemberontakan. Jawabnya karena bung Tomo memahami siapa yang tepat menjadi teman dalam membela tanah air dan bangsa serta agama dari ancaman tentara sekutu (Suryanegara, 2010, 205).

Setelah  melalui masa-masa sulit ketika harus menghadapi sekutu, akhirnya perjuangan Bung Tomo membuahkan hasil, sekutu pun pergi dari negeri ini. Walaupun pastinya ada ancaman-ancaman lainnya yang pasti akan datang, namun setidaknya untuk jangka waktu kedepan bangsa Indonesia akan hidup lebih tenang. Berbicara mengenai karir kenegaraan Bung Tomo tak kalah cemerlang dengan perjuangannya. Menjadi menteri negara urusan bekas pejuang bersenjata  Veteran/ Menteri Sosial ad Interim (1955-1956); Anggoa DPR RI hasil pemilihan umum pertama (1956-1959); Ketua II (Bidang Ideologi Sosial Politik) Markas besar legiun Veteran (Sulistina,2008 : 224). Beliau pun rajin menulis buku, diantaranya Kepada Bangsaku (1946), 10 November 1945 (1952), Koordinasi dalam Republik Inodnesia (1953), Ke Mana Bekas Pejuang Bersenjata  (1953), Gerakan 30 September (1966).

Bung Tomo dianugrahi Satya Lencana Kemerdekaan Bintang Gerilya, dan Bintang Veteran RI. Selain itu, juga mendapat SK pensiun Bekas Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang dan Menteri Sosial Ad Interm, SK Pensiun Bekas Anggota ABRI (Mayor Jederal TNI AD), dan SK pensin Bekas ANGGOTA DPR. (Sulistina,2008 : 205).

Berita duka pun datang, beliau meninggal ketika melaksanakan ibadah haji, saat wukuf di Padang Arafah pada tanggal 7 Oktober 1981. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sosok beliau. Walaupun bisa dikatakan pengorbanannya terlambat untuk dihargai, beliau baru dianugrahi gelar pahlawan lebih dari 20 tahun setelah beliau wafat. Semoga bangsa ini bisa bisa lebih belajar kembali untuk menghargai jasa seorang yang telah rela mengorbankan segalanya demi tetap berkibarnya bendera merah putih di tanahnya.